AKU YANG SEHARUSNYA DIPAKU

Rasa risau yang menghujam hati
Menghimpit nafas dengan suara menyesak
Keringat terurai menutup pori-pori
Lidah pucat berkata lirih : Kalau boleh semuanya ini berlalu

Detik-detik waktu melaju menhampiri titik-titik penyiksaan
darah terpompa cepat karena ketakutan mendera
Hamba itu berdiri di tengah lautan caci maki
Sungguh tak ada saat untuk memejamkan mata.

Seorang Hamba berdiri tanpa kata
Menanggung perih luka yang menganga
Tercurah darah suci di antara jemari
Di sebuah kayu pada bukit yang sunyi

Tuhanku telah menjadi Hamba
Hina dina tak dipandang manusia millikNya
Sungguh semuanya karena aku
Aku menjadikan sebab Dia dipaku.

Aku yang semestinya tergantung di palang kayu
Tanganku yang mestinya ditembus tajamnya paku
Kepalaku yang harusnya dihujam mahkota duri.
Tubuhku yang layak merasakan nyeri

Tuhan telah menggantikan posisiku
Tuhan telah disalib bagiku
Tuhan telah mati dan bangkit bagiku
KebangkitanNya telah menghidupkan diriku



                                                                                       Kristanto Imanuel
                                                                                        April 2007



Comments