AKU YANG SEHARUSNYA DIPAKU
Rasa risau yang menghujam hati Menghimpit nafas dengan suara menyesak Keringat terurai menutup pori-pori Lidah pucat berkata lirih : Kalau boleh semuanya ini berlalu Detik-detik waktu melaju menhampiri titik-titik penyiksaan darah terpompa cepat karena ketakutan mendera Hamba itu berdiri di tengah lautan caci maki Sungguh tak ada saat untuk memejamkan mata. Seorang Hamba berdiri tanpa kata Menanggung perih luka yang menganga Tercurah darah suci di antara jemari Di sebuah kayu pada bukit yang sunyi Tuhanku telah menjadi Hamba Hina dina tak dipandang manusia millikNya Sungguh semuanya karena aku Aku menjadikan sebab Dia dipaku. Aku yang semestinya tergantung di palang kayu Tanganku yang mestinya ditembus tajamnya paku Kepalaku yang harusnya dihujam mahkota duri. Tubuhku yang layak merasakan nyeri Tuhan telah menggantikan posisiku Tuhan telah disalib bagiku Tuhan telah mati dan bangkit bagiku KebangkitanNya telah menghidupkan diriku ...